Selain sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah, Semarang mempunyai beberapa julukan seperti Kota Lumpia, Kota Atlas, Venetie van Java dan The Port of Java. Kebiasaan banjir yang sering terjadi juga mengingatkan akan lagu Semarang Kaline Banjir. Bagi warga Semarang, selain julukan dan kebiasaan tersebut, salah satu yang akrab adalah suhu panas yang sering dirasakan. Data BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, puncak suhu maksimum bulanan berada di Maret-April dan lebih tinggi lagi di Oktober-November. Bulan-bulan saat terjadi kenaikan suhu bertepatan dengan masuknya masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, atau sebaliknya dari musim kemarau ke musim hujan dimana pada waktu tersebut kelembaban udara juga masih tinggi, sehingga hawa gerah/sumuk juga dirasakan. Berbagai macam anekdot bermunculan di media sosial warga Semarang, seperti: Neraka Bocor, Matahari ada 7, Panasnya Potato-potato, Semarang lagi di antara Bumi dan Matahari dan lain sebagainya. Sebagai kota yang sibuk, di luar rutinitas banyak warga Semarang memanfaatkan waktunya melakukan aktivitas di luar ruangan seperti berolahraga lari. Spot-spot olahraga seperti GOR Tri Lomba Juang, GOR Jatidiri, GOR Universitas Diponegoro, Simpang Lima selalu ramai dipenuhi warga baik yang berlari atau sekadar jalan-jalan sebagai upaya menjaga kebugaran. Besarnya animo olahraga lari saat ini ditunjang dengan semakin banyaknya event-event lari. Salah satu event lari di Semarang adalah Tugu Muda Marathon (TMM) yang biasa dilaksanakan di bulan April. Event lari yang mengusung Sport Tourism ini menyediakan 3 kategori, yaitu jarak 5K, 10K dan HM (21,1 Km). Pada event ke-3 tahun 2026, TMM cukup berani menambah kategori jarak FM (42,2 Km). Beragam respons para pegiat lari di media sosial beraneka ragam, mulai dari kekhawatiran terhadap kategori FM, kondisi kota Semarang yang ramai, jalur yang tidak sepenuhnya steril, melewati jalur pantura yang banyak dilalui kendaraan berat, hingga pengalaman peserta pada pelaksanaan event sebelumnya. Sebagai orang BMKG, penulis mengkhawatirkan kondisi cuaca yang bakal dialami para peserta FM, jarak yang jauh, peningkatan suhu yang signifikan pada pagi hari dan risiko keselamatan pelari. Apalagi hal sama pernah dialami saat mengikuti event Borobudur Marathon (Bormar) Tahun 2023 kategori FM. Race Director Bormar menghentikan kategori FM lebih awal pada pukul 10.30, satu jam setengah lebih cepat. Cuaca di Kawasan Borobudur sejak pukul 09.30 mulai cukup panas serta adanya laporan tim medis terdapat banyak pelari bertumbangan membutuhkan pertolongan dikarenakan teriknya panas yang terjadi. Medical Director juga menyampaikan pantauan Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), cuaca pada pukul 10.30 masuk pada kategori hitam, yang menunjukkan suhu mencapai 36 derajat dan suhu permukaan mencapai sekitar 50 derajat Celcius. Menurut guideline, pertandingan harus dihentikan dengan pertimbangan medis pada keselamatan peserta. Tidak seperti event sebelumnya di tahun 2024 dan 2025 yang berpartisipasi sebagai peserta kategori HM, tahun 2026 ini berpartisipasi sebagai marshall kategori HM dan FM yang bertugas memberikan kenyamanan berlari pada jalur yang dilewati. Tugas di lapangan berlangsung sejak jam 03.00 hingga 11.00 WIB. Pada rentang waktu tersebut, suhu mulai tidak nyaman di sekitar jam 07.00 WIB dan terus meningkat. Kondisi pelari terlihat mulai beraneka ragam, ada yang siap dengan kondisi tersebut, ada yang terlihat dehidrasi, ada yang mulai jalan kaki dan ada yang menggunakan mode bertahan hidup, bahkan ada beberapa pelari yang memutuskan DNF (Did Not Finish). Tidak ada penghentian pertandingan dan bersyukur tidak ada korban. Berkaca dari pengalaman Borobudur Marathon 2023, data Automatic Weather Station (AWS) Stasiun Klimatologi diunduh, diolah dan dibuat visualisasi grafik untuk melihat perubahan parameter suhu udara, kelembaban udara dan kecepatan angin yang akan menghasilkan nilai Heat Index dan WBGT. Heat Index menurut NOAA National Weather Service menggambarkan “Suhu yang terasa” dari suhu udara dan kelembaban relatif yang membuat paparannya dapat terasa lebih tinggi. Sedangkan WBGT memperhitungkan tekanan panas di bawah sinar matahari langsung, termasuk suhu, kelembaban, angin dan radiasi matahari. WBGT ini menjadi pedoman Competition Medical Guidelines for World Athletics Series Events dalam pemantauan heat stress pada event atletik. Terdapat klasifikasi dalam WBGT berupa Almost Safe (<21°C), Caution (21-25°C), Warning (25-28°C), Severe Warning (28-30°C) dan Danger (>30°C). Analisis menunjukkan di awal lomba saat pelari memulai di garis start, pada pukul 03.00-05.00 WIB kisaran suhu udara pada 26-28°C, namun Heat Index menunjukkan 29-31°C. Artinya, sejak dimulainya start lari pelari sudah merasakan kondisi yang lebih panas dibanding suhu terukur, dikarenakan kelembaban udara tinggi. Peningkatan secara signifikan dimulai pukul 06.00-07.00 WIB. Suhu udara meninggi, Heat Index meningkat dan WBGT mulai memasuki kategori Severe Warning. Fase ini, pengaruh matahari mulai menambah beban panas pelari. Titik kritis muncul setelah pukul 08.00 WIB, dimana suhu udara terus naik hingga melebihi 33°C dan Heat Index melonjak hingga 42°C menjelang pukul 11.00 WIB. Artinya secara fisiologis yang dirasakan oleh pelari bukan hanya suhu 33°C tetapi juga merasakan panas yang setara dengan 40°C. Sementara WBGT naik secara bertahap memasuki kategori Danger di pukul 11.00 WIB. Sebagai pelari, kondisi ini sangat dipahami betapa beratnya event ini, sehingga perlu disiapkan secara matang sebelum dan saat berlari. Sebagai petugas marshall, terlihat perjuangan para pelari menyelesaikan kategori HM dan FM dengan kondisi cuaca yang sangat tidak nyaman. Sehingga pemahaman informasi cuaca penting dalam persiapan kegiatan seperti halnya event lari, sehingga risiko keselamatan pelari bisa diminimalisir. BMKG dengan segala sumber daya jaringan AWS yang tersebar di seluruh Indonesia berpeluang mampu memberikan informasi mengenai Heat Index dan WBGT dalam menunjang keselamatan manusia dalam dunia olahraga atletik. Tidak hanya sekadar memberikan informasi iklim, tetapi mampu mengembangkan layanan informasi risiko panas, termasuk analisis dan prakiraan Heat Index dan WBGT untuk mendukung keselamatan aktivitas di luar ruangan. Harapannya, peluang kolaborasi dengan organisasi atletik, event organizer olahraga serta organisasi lainnya sangat terbuka lebar dalam penyampaian manfaat informasi BMKG untuk atlet, tenaga medis, relawan, sekolah, pekerja lapangan dan masyarakat. Informasi ini penting bukan hanya untuk pelari, tapi juga penyelenggara kegiatan luar ruangan lainnya . Data suhu udara, kelembaban udara, angin, radiasi matahari, Heat Index, dan WBGT menjadi bahan pertimbangan dalam menyiapkan water station, pos medis, imbauan ke peserta, hingga bahan evaluasi pelaksanaan kegiatan. Hal penting bagi peserta adalah kesiapan dalam menyusun strategi lari, hidrasi, pakaian dan mengenali tubuh saat diperlukan penurunan intensitas. BMKG tidak hanya memberikan informasi cuaca dan iklim, tetapi berpeluang mengembangkan layanan informasi berupa risiko cuaca panas dalam mendukung kesehatan dan keselamatan aktivitas di luar ruangan.